Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia. BIS Kol 3 : 23

Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia. BIS Kol 3 : 23
Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel
![]() |
waktu aku dijemput dari rumah |
![]() |
Capcay |
![]() |
Buncis pake bakso |
Maz 112 : 1-3 Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya
Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal DIA. Titus 1 :16
Bahkan yang lebih luar biasa lagi, kita dapat bersaksi bahwa semua merupakan kebaikan dan anugerah Tuhan sehingga Tuhan memproses kita untuk semakin mengenalNya. Seperti kata Rasul Paulus dalam Filipi 3: 8 : " Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku lebih mulia dari pada semuanya itu, dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus".
Seperti kata Paulus dalam Roma 12:2 Jangan kita menjadi serupa dengan dunia ini tapi berubahlah oleh pembaharuan budi sehingga kita bisa mengerti kehendak Allah
TUHAN, betapa banyaknya karya-Mu bagi kami, ya TUHAN Allahku, Engkau tak ada taranya! Banyaklah rencana-Mu yang menakjubkan bagi kami, tak mungkin diceritakan semuanya. Mazmur 40:5 BIS
Itulah sebabnya kita harus belajar, seperti yang ditulis Paulus untuk “berubahlah oleh pembaharuan budimu” Roma 12:2b, dan “menawan segala pikiran dan menaklukannya pada Kristus” 2 Kor 10:5b.
Pacaran merupakan kesempatan mengenal seseorang untuk membangun persahabatan. Hubungan yang sehat selalu dimulai pada tingkat rohani dan intelektual – minat, impian, kepribadian/karakter dan pandangan hidup.
Selain mengetahui manfaat pacaran, harus disadari juga bahaya dibaliknya. Ini bukan rahasia lagi, bahkan para orang tua menetapkan jam malam untuk menjaga anak-anaknya dari bahaya ini. Meskipun sering, anak-anak selalu membangkang dan tidak taat. Terjebak secara fisik dan emosional pada tingkat yang terlalu dalam yang menuntun pada seks bebas. Generasi muda saat ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan barat, fokus hubungan mereka adalah ketertarikan fisik.
Sebelum pacaran, Anda harus tahu standar Tuhan bagi sebuah hubungan. Anda seharusnya bahkan tidak mulai berpikir untuk pacaran dengan siapapun sampai Anda mengerti apa yang menjadi standar Allah. Ini menuntut kedewasaan rohani. Menunggu sampai Anda berpacaran untuk menentukan apa yang benar dan salah, atau apa yang akan atau tidak akan dilakukan, sudah terlambat. Hanya ada dua pilihan : mau memilih mengikuti standar Tuhan atau mengikuti standar dunia. Anda harus memutuskan untuk menjaga kekudusan Anda dalam pacaran, jika tak mau mengikuti standar dunia dan jatuh dalam dosa.
3. Anda siap berpacaran pada saat Anda sudah memastikan didalam roh Anda bahwa Anda tidak akan menurunkan atau mengkompromikan standar-standar Ilahi demi alasan apapun, bahkan jika itu berarti harus kehilangan pacar Anda.
Banyak orang rela mengkompromikan standar mereka demi mendapatkan pacar atau mempertahankan pacar mereka. Berdiri teguh diatas kepercayaan Anda adalah tanda kedewasaan rohani dan emosional. Anda tidak dapat mengharapkan yang terbaik jika Anda tidak teguh menaati dan melakukan standar-standarNya.
4. Anda siap untuk berpacaran saat Anda tidak memerlukannya.
Jika Anda merasa “memerlukan” seorang pacar untuk merasa utuh dan puas secara pribadi, maka Anda belum siap untuk berpacaran. Anda siap untuk berpacaran hanya saat Anda merasa utuh dan lengkap dalam Tuhan tanpa orang lain. Orang yang merasa tidak utuh, setiap hari akan merasa tidak aman karena mereka mengharapkan pasangan mereka untuk mengisi kekurangan mereka.
Menurutku salah satu penyebab orang patah hati, yang ingin bunuh diri dan depresi juga adalah hal ini. Mereka tidak merasa utuh secara pribadi. Mereka membutuhkan orang lain untuk membuat mereka utuh dan bahagia. Mereka merasa tidak bisa hidup tanpa pasangan mereka. Mereka tergantung secara emosional dengan pasangan mereka.
5. Anda siap untuk berpacaran saat Anda sudah belajar terlebih dahulu bagaimana hidup sendirian.
Kelajangan sejati adalah suatu tanda kedewasaan rohani dan emosi. Jika Anda bisa sendirian dan menikmatinya berarti Anda sudah menerima diri Anda sendiri. Seorang lajang sejati adalah seseorang yang utuh secara fisik, emosional, rohani dan intelektual, tanpa “tergantung” kepada siapa pun. Bukan berarti kita bisa hidup tanpa bantuan orang lain tapi kebahagiaan kita tidak tergantung dari orang lain. Para lajang yang berhasil adalah orang-orang yang menemukan identitas pribadi dan keutuhan dalam diri mereka dalam hubungan dengan Tuhan.
6. Anda seharusnya sibuk mempersiapkan diri Anda sendiri untuk siapapun yang Tuhan sedang persiapkan untuk Anda.
Pakailah kesempatan ini untuk mengejar pertumbuhan rohani dan hubungan yang dalam dengan Tuhan. Orang-orang yang sudah menikah harus membagi waktu dan perhatian mereka antara hal-hal yang bersifat rohani dengan tanggung jawab mereka dalam hidup pernikahan mereka. Jangan terburu-buru menjalin sebuah hubungan. Pastikan akar rohani Anda tertanam kuat didalam Tuhan sekarang, karena begitu Anda terlibat dalam hubungan serius dengan orang lain, waktu dan perhatian Anda akan terbagi antara orang tersebut serta pelayanan Anda kepada Tuhan. Pikirkanlah masa lajang sebagai suatu berkat dan kesempatan yang sempurna untuk mengembangkan karakter Anda.
7. Prioritas utama kita sebagai orang percaya adalah mencari Kerajaan Allah dan KebenaranNya.
Mencari kerajaan dan kebenaran Tuhan seperti berjalan sepanjang jalan menuju suatu tujuan tertentu, menjaga pandangan kita untuk fokus pada tujuan yang ada didepan kita. Selama kita berjalan dijalan yang ada didepan kita, bertumbuh dalam anugerah dan pengenalan akan Tuhan dan kebenaranNya, yang artinya kita tahu bagaimana hidup, bertindak dan berhubungan dengan cara yang benar dalam kehidupan. Pengetahuan ini datang melalui Firman Tuhan dan dari meluangkan waktu dalam hadiratNya.
Jika Anda harus mencari seseorang, seharusnya ia menuju ke arah yang sama dengan Anda, dan Anda berdua berada dijalan yang sama. Tetaplah di jalan Anda, pusatkan perhatian pada kerajaan Allah, dan cepat atau lambat, seseorang yang mempunyai pikiran dan hati yang sama akan mendekat kepada Anda.
Minggu yang lalu, ada satu tayangan dalam Oprah Winfrey Show yang cukup menggugahku.
Aku search di internet dan aku menemukan cerita lengkapnya :) Ini dia...
Seorang wanita yang melakukan suatu keajaiban dari "tidak punya rumah sampai ke Harvard" membuat kisah hidupnya menjadi cerita yang paling banyak dibaca di Amerika.
Liz Murray, 29, tumbuh dari kehidupan jalan yang keras sampai bisa lulus dari sebuah universitas terkenal dan menjadi pembicara internasional.
Kenangan-kenangan awal hidupnya tidaklah menyenangkan, orang tuanya menghabiskan uangnya untuk mengkonsumsi kokain dan heroin saat ia dan adiknya kelaparan: "Kita memakan es batu karena kita sangat lapar. Kita juga berbagi pasta gigi untuk makan malam."
Mencoba untuk bertahan hidup
Lahir di Bronx, Liz melihat orang tuanya menghisap kokain setiap hari. "Kedua orang tuaku adalah hippie (semacam kultur di Amerika), Di awal tahun 1980-an dan ketika aku lahir, mereka menjadi pecandu narkoba," ingatnya.
Ia berkata bahwa ia sangat mencintai mereka dan mereka sebenarnya juga mencintai dirinya, mereka sebenarnya orang yang berpendidikan tetapi tidak berdaya karena ketergantungan obat dan kemiskinan. Ia ingat ibunya mencuri uang ulang tahunnya, menjual televisi, bahkan kalkun yang diberikan gereja waktu hari Thanksgiving, untuk membeli kokain. Liz dijelek-jelekkan dan diganggu di sekolahnya karena bau dan tidak rapi dan kemudian ia pun keluar dari sekolah itu.
Mantra ibunya adalah "suatu hari hidup akan lebih baik", dan kemudian ia akan menghabiskan waktu dengan muntah-muntah dan dirawat oleh putrinya, tangannya penuh dengan bekas jarum. Saat Liz berumur 15 tahun ibunya positif terkena HIV dan AIDS. Ia meninggal tidak lama setelahnya dan dikuburkan di peti mati sumbangan orang.
Saat ayah Liz tidak mampu lagi membayar biawa sewa kamar dan pindah ke gubuk, Liz tinggal di jalanan. Adiknya memiliki tempat di sofa seorang teman, namun Liz tidur di stasiun kereta atau di bangku taman.
Titik Balik
Awalnya ia melihat dirinya sebagai seorang yang durhaka dan korban, tetapi kemudian ia mendapatkan pencerahan. "Seperti ibuku, aku selalu berkata, ''aku akan memperbaiki hidupku suatu hari.' Dan kemudian itu menjadi semakin jelas ketika aku melihat ibuku meninggal tanpa memenuhi mimpinya, waktuku mungkin sekarang atau tidak sama sekali," katanya.
Ia tidak memiliki tempat untuk hidup dan ia tidak datang ke sekolah secara teratur selama beberapa tahun, tetapi pada umur 17 ia menjadi murid yang cemerlang dan menyelesaikan sekolahnya hanya dua tahun.
Ia bekerja dan mengambil kelas malam. Seorang gurunya melihat kecerdasannya dan mengajarkannya. Saat gurunya membawa 10 murid terpintarnya ke Harvard, Liz berdiri di luar universitas, ia yakin bahwa Harvard berada dalam jangkauannya. Dan kemudian ia mendengar bahwa New York Times memberikan beasiswa padanya.
Liz lulus di musim panas. Oprah Winfrey memberinya penghargaan chutzpah award dan ia bertemu Bill Clinton. Ia berbicara di berbagai event bersama Tony Blair, Mikhail Gorbachev dan Dalai Lama. Ia berbicara pada para remaja tentang menolak godaan obat-obatan dan geng. Dia juga mengingatkan mereka untuk tidak menggunakan kesengsaraan di masa remaja sebagai alasan untuk bertindak negatif.
Ayah Liz meninggal tahun 2006, juga karena AIDS. Salah satu kebaikan ayahnya adalah ia mendorong Liz untuk membaca - dan mencuri buku dari perpustakaan
Liz tidak ingin penampilan dan gelar Harvardnya mengelabuhi semua orang: "Aku adalah salah satu dari orang-orang di jalan yang kamu jauhi itu" Katanya.
terjemahan dari http://www.guardian.co.uk/world/2010/sep/26/liz-murray-bronx-harvard
Ya, apapun keadaan kita dan masa lalu kita tak akan menentukan masa depan kita. Selalu ada harapan bagi mereka yang mau berjuang dan terus maju
Dalam bulan Januari ini aku belajar dari kitab Kejadian. Ada banyak hal yang menarik perhatianku, salah satunya yaitu kisah hidup Nuh. Semua pasti tau nama Nuh bahkan sejak masih di sekolah minggu.
Dalam Kejadian 6 digambarkan bahwa Nuh hidup di zaman yang penuh dengan kejahatan.
Ayat 5 dinyatakan bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecendrungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.Manusia terlibat dalam dosa seksual (kej 6:2 - anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka) dan juga kekerasan (kej 6:11 adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan).
Keadaan yang terjadi pada zaman itu tak jauh berbeda dengan yang kita hadapi saat ini bukan?? Pacaran tidak kudus, perselingkuhan, homoseksual menjadi hal-hal yang lumrah terjadi di masyarakat apalagi di Jakarta.
Bahkan ditulis, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya (kej 6:6). Allah mengasihi manusia tapi Dia harus menghukum manusia karena dosa mereka.
Ada cerita yang kontras dari kisah hidup Nuh. Lihatlah apa yang dikatakan tentang Nuh. Nuh adalah orang yang benar dan tidak bercela diantara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah (Kej 6 : 9). Ditengah-tengah zaman yang bobrok, Allah masih menemukan Nuh yang hidup benar menurut jalan-jalan kebenaran Tuhan, yang tak membelok kekanan dan kekiri namun fokusnya hanya kepada Allah.
Dia memisahkan diri dari kejahatan yang dibuat orang-orang sezamannya, ia tidak menyetujui kelakuan yang dianggap populer oleh masyarakat pada saat itu. Pasti ada banyak godaan yang dialami Nuh sama seperti kita yang hidup dizaman ini. Godaan untuk hidup menurut cara hidup dunia ini yang curang, tidak kudus, yang penuh kebencian, kekerasan, iri hati, dls. Tapi Nuh menjadi teladan kita untuk hidup benar ditengah kebobrokan zaman ini. Jika Nuh dapat hidup benar dan dekat dengan Allah, kita juga pasti bisa.
Diceritakan dalam pasal 6 bahwa Nuh diperintahkan Allah untuk membuat bahtera dan membawa masuk seisi keluarga dan juga segala jenis hewan sepasang-sepasang.
Dalam ayat 22 dinyatakan Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadaNya, demikianlah dilakukannya.Klo dalam bayanganku, gile juga si Nuh. Ga ada ujan, ga ada air tapi berani banged membangun bahtera. Pasti tetangga-tetangganya mengejek dia, tapi Nuh tetap beriman kepada Allah. Dia tidak meragukan Firman Allah dalam hidupnya. Dia tau bahwa Allah yang dia sembah, layak untuk dipercayai.
Ibrani 11 : 7 menyatakan "karena iman, maka Nuh – dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan – dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya"
Satu lagi teladan dari Nuh, beriman kepada Allah. Apapun yang telah Allah janjikan dalam hidup kita, imani itu. Meskipun saat ini kita tak melihat tanda-tanda atau jalan yang terbuka tetap beriman kepadaNya. Yakinlah bahwa Dia Allah yang layak dipercayai, Dia Allah yang mengasihi kita, yang mendatangkan kebaikan dalam hidup kita.
Setelah air bah surut dan Nuh turun dari bahtera, Nuh langsung mendirikan mezbah bagi Tuhan.
Apa kata Tuhan ketika Ia mencium persembahan Nuh yang harum itu : “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkannya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah dilakukan” (Kej 8 : 20-21)
Seperti Nuh, hendaklah kita mendirikan mezbah dan mempersembahkan hidup kita yang menyenangkan hati Allah dan juga memberkati banyak orang. Karena persembahan Nuh, maka seluruh bumi diberkati Allah.